tymask.ono

23 May, 2008

Life is too cruel…. very very cruel!!!

Filed under: Fun and Facts — tymask @ 9:29 pm

Kisah nyata hidup orang yang sangat menyenruh kita…..

25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus
tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali
hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem
dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi
aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi.
Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami
sederhana, ingin hidup bahagia.

22 tahun yang lalu,
pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya,
keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia
Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi
baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru
berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa
prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak
mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak
membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu,
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari,
melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai
kemudian berteriak “Horeee, Iya bisa terbang”. Begitulah dia memanggil namanya
sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman
rumah. Dan Kania tak jarang berteriak, “Iya sayaaang,” jika sudah terdengar
suara “Prang”. Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau
meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari
tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma
bilang “Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?”

18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar
bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania
tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola
seperti yang sering diucapkannya. “Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain
bola!” tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia
sebuah bola. Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan
seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu.
“Horee, Iya jadi pemain bola.”

17 Tahun yang lalu,
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah
aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu
bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang
aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari sekolah. Kulihat
anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia
semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan
kehati-hatianku dan “Iyaaaa”. Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku,
lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku
sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang kelam menyelimuti
pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar
barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir
cuma berkata “Coba kalau kamu tak belikan ia bola!”

15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke
rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak
mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang
kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah. Perabotan rumah yang bisa
dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari
ke luar negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan
Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan
akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

13 tahun yang lalu,
Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya
setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang
untuk Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya.
Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku
bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua
tanganku. Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja
dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam
segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila
hidup tegar.

10 tahun yang lalu,
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup
berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi
bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya. “Biar
cantik kalo kere ya kelaut aje.” Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar.
Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga.
“Sabar ya, Nak!” hiburku.
“Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!” pintanya padaku.
Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam
dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku
bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum
padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya
hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu,
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui
pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong
pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang
membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia.
Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP. Haruskah aku
melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis
dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang
dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan
membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa
untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.

4 tahun lalu,
Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana. Dia
bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka
dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik.
Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang
keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering
diganggu. Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari
suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba.
Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik
usahakan untuk salat tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang
pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga
beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan
aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu,
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian> pemerintahan Malaysia,
kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti
membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku
tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa
dia harus membunuh. Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan
anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai.
Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku
tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu,
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus
menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain
menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan
seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik?
Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku. Atas permintaan anakku
aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat
terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin
rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan
pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin
melepaskan aku.
“Bapak, Iya Takut!” aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar, aku
ingin menggantikannya.
“Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?”
“Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya dipukulnya.
Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak
salah kan, Pak!” Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa
mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu
menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat.
Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia
tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon
hukuman pada wanita itu.

2 tahun yang lalu,
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku
mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak
ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana. Petugas itu
membuka papan yang diinjak anakku. Dan ‘blass” Kamilaku kini tergantung. Aku tak
bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka,
aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya
dan tersenyum sinis. Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar
oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal.
“Kania?”
“Mas Har, kau … !”
“Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!”
“Iya ? Dia..dia . Iya ?” serunya getir menunjuk jenazah anakku.
“Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.”
“Tidak … tidaaak … ” Kania berlari ke arah jenazah anakku. Diguncang tubuh
kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan
memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari
tiang gantungan. Bunyinya “Terima kasih Mama.” Aku baru sadar, kalau dari dulu
Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu,
Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku tahu, aku
belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri.
Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang
mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, “Iya sayaaang, apalagi
yang pecah, Nak.” Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin
orang tua kita memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada
kesengsaraan untuk Kamila anak kita. Benarkah begitu Iya sayang?

Mari kita renungkan bersama-sama…

2 Comments »

  1. hiks….
    sedih benar…

    Comment by winson — 8 July, 2008 @ 4:30 pm

  2. yup…
    ne bo mia cui…

    banyak makna hidup yang dpt kita raih dari cerita ini….

    Comment by tymask — 8 July, 2008 @ 5:10 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: